Bagi yang sedikit
bernasib baik dengan pernah menikmati bangku sekolah formal jenjang SMP,SMA dan
sejenisnya, jelas juga mengenal OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Nama
yang wajib tertempel di saku seragam putih sebelah dada kiri. Entah siapa yang
mempunyai ide cerdas dengan mencetuskan nama tersebut. Nama organisasi yang
ternyata milik dan dijalankan oleh siswa – siswa sekolah formal tersebut. Wadah
bagi siswa – siswa berpotensi yang masih mempunyai energy dan semangat juang
tinggi untuk mengejar mimpi – mimpinya.
Tapi sayangnya mereka masih
yesterday afternoon child yang masih
harus belajar banyak mengenai manajemen organisasi. Wajar apabila kita sering
menemukan kegiatan – kegiatan yang mereka laksanakan terkesan
wah tapi masih “kosong”. Selain kegiatan
yang harus mampu menampung minat bakat siswa. Mempertontonkan pentas seni (tak
jarang mendatangkan grup band nasional dengan biaya mahal),
class metting, lomba ini itu dan masih
banyak yang lain. Tujuannya memang kita dapat menangkap behwa mereka ingin
menghargai minat bakat siswa dan menyalurkan energy positif jiwa – jiwa muda
agar tidak disalahgunakan. Tapi jika lebih cermat lagi untuk mengamati, bahwa
mereka sebenarnya hanya mengejar eksistensi. Seakan – akan membuktikan kepada
dunia bahwa mereka yang masih
yesterday afternoon
child mampu untuk menyelenggarakan kegiatan yang jika orangtuanya
mengetahui pasti akan bangga, setelah dituntut dengan program kerja yang harus
dipertanggungjawabkan ke guru – guru ataupun teman – temannya. Sebatas
menyelenggarakan kegiatan yang “tampak” karena masih proses belajar
berorganisasi. Ya, OSIS adalah organisasi yang djalankan oleh sekumpulan
yesterday afternoon child demi mengejar
eksistensi untuk membuktikan bahwa mereka meskipun anak yang masih seperti itu
ternyata bisa. Wajar apabila kegiatannya itu – itu saja.